banner 728x250

Keluarga Jurnalis Hilang Kontak: Ditemukan dalam Keadaan Apa Pun Ikhlas, Cuma Mau Lihat Papa

Speedboat yg Ditumpangi Jurnalis Hendak Meliput Namun Berakhir Hilang Kontak (Foto/Ist)

Banten, Frekuensi Informasi – Harapan keluarga jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau belum mereda. Di tengah ketidakpastian, mereka berusaha belajar ikhlas sembari tetap menanti keajaiban dan kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga tercinta.

Dukungan moral pun terus mengalir kepada keluarga para jurnalis. Pada Jumat (25/9/2026), Gubernur Banten Andra Soni mengunjungi kediaman empat jurnalis yang hilang untuk memberikan dukungan moral sekaligus menyampaikan perkembangan informasi mengenai penanganan di lapangan.

Kunjungan pertama dilakukan ke rumah Firdaus Wajidi alias Daus di Ciledug, Kota Tangerang. Setibanya di sana, Andra berbincang dengan istri Daus, Astrid, dan keluarga yang mendampinginya.

“Sebenarnya dari Basarnas terus-terusan berkoordinasi dengan semua pihak. Memang tidak melakukan operasi pencarian, tapi menindaklanjuti setiap informasi. Contoh yang di Muko-Muko gitu kan ditindaklanjuti,” jelas Andra kepada Astrid mengenai perkembangan di lapangan.

Dalam kesempatan itu, Andra juga menceritakan momen terakhir dirinya berinteraksi dengan lima jurnalis di Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. Pertemuan singkat tersebut terjadi pada Minggu (6/9/2026) malam, sekitar pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

“Saat itu lima jurnalis ini masih berada di lokasi. Karena mereka kan memang fotografer nyari momen, bilamana ada erupsi dan sebagainya. Dan kebetulan pada hari itu tidak ada, sehingga kita diskusi ngalor-ngidul lah,” kenangnya.

Anak-anak Daus berusaha ikhlas Ketegaran terlihat dari keluarga Daus. Sang istri, Astrid, mengatakan ketiga anaknya yang berusia 9, 8, dan 7 tahun kini mulai belajar ikhlas dan siap menerima kondisi apa pun terkait keberadaan ayah mereka.

“Anak-anak kalau saya tanya sih, ‘Iya sih Ma, kita insya Allah udah ini, yang penting Papa ada wujudnya.’ Mereka sama, maksudnya jadi udah di tahap yang ikhlas,” tutur Astrid kepada Andra.

Astrid mengatakan, ketiga anaknya hanya berharap tubuh sang ayah segera ditemukan agar keluarga mendapatkan kepastian. “‘Ditemukan dalam keadaan apa pun udah ikhlas, yang penting ada… aku cuma mau lihat Papa,’ katanya gitu,” ujar Astrid menirukan ucapan anak-anaknya.

Untuk menyiapkan mental anak-anaknya menghadapi kemungkinan terburuk, Astrid mengaku terus memberikan pemahaman secara bertahap. Hal itu termasuk ketika keluarga menerima kabar penemuan salah satu jenazah korban dari kapal yang sama beberapa waktu lalu.

“Penemuan mayat kemarin tuh aku info ke mereka juga. Aku bilang penemuan mayat kemarin sudah konfirm itu satu kapal sama Papa. Jadi kita tetap harus siap apa pun nanti, tiba-tiba kalau ketemu kondisi apa pun siap,” kata Astrid sembari menyampaikan niatnya ingin melakukan tabur bunga di Pantai Carita pada Selasa (29/9/2026).

Rencana tersebut disampaikan Astrid di sela-sela perbincangannya dengan Andra.

Astrid menuturkan, 29 September memiliki arti emosional tersendiri bagi keluarga karena bertepatan dengan hari ulang tahun Daus dan anak kedua mereka.

“Kita rencana tanggal 29 kan mau ke Carita. Tabur bunga itu pas kebetulan ulang tahun Daus sama anak yang kedua. Jadi kalau memang belum ketemu, kita rencananya mau ke sana,” kata Astrid kepada Andra.

Merespons rencana tersebut, Andra menyatakan Pemerintah Provinsi Banten bersedia memfasilitasi keluarga Daus yang berencana menggelar tabur bunga.

Usai menyambangi kediaman Daus, Andra Soni melanjutkan kunjungan ke rumah jurnalis, Donal di kawasan Ciater, Tangerang Selatan. Dalam kunjungan tersebut, Andra menyampaikan dukungan pemulihan mental serta jaminan masa depan bagi anak Donal dan jurnalis lainnya.

Ia menyoroti kondisi psikologis serta keberlanjutan pendidikan anak-anak para jurnalis yang hilang, mengingat sebagian besar dari mereka masih berusia sangat muda.

Selain pendampingan kesehatan mental, Pemprov Banten juga tengah mengupayakan bantuan teknis dan masa depan pendidikan bagi anak-anak para jurnalis tersebut.

“Termasuk yang disampaikan oleh Ibu tadi, ada beberapa hal yang harus kita tindak lanjuti untuk membantu beliau. Insyaallah akan kita lakukan,” tuturnya.

Sementara itu, istri jurnalis Arie Basuki atau Arbas, Sri Damayanti, berharap pencarian terhadap suaminya dan korban hilang lainnya dapat kembali dilanjutkan.

Bagi Sri, penemuan jenazah Surahman menjadi penanda bahwa masih ada harapan Arbas dan enam korban lainnya dapat ditemukan. Hal tersebut disampaikan Sri saat Andra Soni menyambangi rumahnya di Depok, Jawa Barat, pada Jumat (25/9/2026).

“Paling tidak, ini kan sudah ditemukan, berarti ada ada temuan ya setidaknya. Itu akan dilanjutkan enggak, Pak?” tanya Sri kepada Andra.

“Kalau bisa sih, Pak, pencariannya dilanjutkan. Karena belum ada kejelasan ini kami,” pinta Sri. Meski sangat berharap pencarian dilanjutkan, Sri mengaku keluarga berusaha tetap pasrah dan menerima apa pun keputusan yang telah digariskan.

“Insya Allah, harapan sih selalu ada. Semoga keajaiban itu masih ada. Walaupun kalau kita sebagai umat muslim ya memang harus menerima apapun yang digariskan sama Allah ya itu adalah yang terbaik buat kita. Tapi kita sebagai manusia kan harus berusaha, harus berikhtiar,” tuturnya.

Istri Yudistiro Menanti Kepastian Dukungan juga diberikan kepada keluarga Yudistiro Pranoto.

Sang istri, Rhodiyah Nasution atau Diyah, mengungkapkan bahwa keluarganya terus berusaha menerima kondisi yang ada sembari tetap berharap mendapatkan kepastian mengenai keberadaan suaminya.

“Walau waktu sudah berjalan mungkin hampir 3 minggu kami belajar untuk ikhlas. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau seandainya memang kami menemukan, satu sisi kami merasa lega karena sudah ada kepastian akan keberadaan suami,” ujar Diyah di sela pertemuannya dengan Andra di kediamannya di Depok.

Namun, Diyah menyadari bahwa jika suatu saat suaminya ditemukan, dirinya dan kedua anaknya harus menyiapkan mental untuk menghadapi kenyataan pahit tersebut. “Di sisi lain juga pastinya akan merasa mental down itu pasti ada,” kata Diyah.

Keempat keluarga jurnalis tersebut mengaku telah berusaha ikhlas dan siap menerima kondisi apa pun. Namun, di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti, mereka tetap menanti kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga masing-masing dan berharap keajaiban masih ada.  (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *