Jakarta, Frekuensi Informasi – Warga Pedagang Pasar Serdang, di Kemayoran, Jakarta Pusat, menolak Revitalisasi karena menurut pedagang, mereka diminta biaya revitalisasi hingga ratusan juta.
“Bukan karena tidak setuju revitalisasi, tapi kami menolak jika harus bayar biaya revitalisasi. Kami keberatan lantaran diminta membayar biaya revitalisasi hingga ratusan juta rupiah,” kata salah seorang pedagang yang enggan disebut namanya yang diamini pedagang lainnya.
Pasar Serdang sendiri merupakan bangunan yang berdiri sejak 1976 dan dinilai sudah membutuhkan perbaikan.
Pedagang berinisial ‘W’ (65), yang sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Serdang, mengaku para pedagang dikenakan biaya sekitar Rp.40 juta per meter persegi.
“Lapak saya aja 4 meter (persegi). Kalau satu meter Rp 40 juta, dikali 4 kan Rp 160 juta. Nah, itu belum administrasi, belum katanya pajak, kan minimal kurang lebih Rp 200 juta untuk jangka 20 tahun. Nanti perpanjang lagi,” kata W saat ditemui wartawan di lokasi, Minggu (27/9/2026). Informasi tersebut, kata W dia peroleh dari pihak pengelola pasar dan disampaikan melalui perwakilan pedagang.
Ia menilai nominal yang harus dibayarkan untuk revitalisasi tersebut sangat berat, terlebih kondisi Pasar Serdang saat ini sedang sepi pembeli.
“Jangankan buat bayar segitu, dagangan aja sekarang sepi kayak gini, buat makan sama setoran aja udah syukur. Per bulan Rp 130.000 kalau saya,” ucap W.
“Asal bisa makan aja udah untung. Bisa makan enggak bisa setoran. Bisa setoran enggak bisa makan, jujur aja,” katanya.
Pedagang Bukan Menolak Pasar Diperbaiki kata W, pada dasarnya para pedagang tidak menolak jika Pasar Serdang direvitalisasi karena kondisi fisik bangunan memang membutuhkan perbaikan.
Namun, ia mempertanyakan alasan biaya revitalisasi dibebankan kepada pedagang dengan nilai yang menurutnya sangat besar. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pasar lain yang disebutnya direvitalisasi tanpa memungut biaya dari pedagang.
“Kalau mau direnovasi sih memang orang pedagang setuju. Cuman yang enggak setuju itu masalah harga. Harganya terlalu tinggi. Yang aku tahu pasar lain itu, saudara saya di Pasar Nangka, itu tanpa biaya. Kok di sini mau dibangun biayanya per meternya mintanya mahal,” ucapnya.
Senada dengan W,blelaki paro baya berinisial Y(43), juga menolak jika biaya revitalisasi dibebankan kepada para pedagang. Y membenarkan adanya informasi bahwa pedagang harus membayar sekitar Rp 35 juta per meter persegi untuk memperbaiki lapaknya.
“Padahal setahu saya harusnya kan dananya pakai dana pemerintah DKI ya, tapi ini malah disuruh pakai dananya pedagang. Padahal pedagang uang dari mana segitu, dagangan aja seret,” kata Y.
Y mengatakan, bangunan Pasar Serdang memang sudah sangat tua karena dibangun sejak era 1970-an dan belum pernah mendapat renovasi besar.
Bahkan, jika terjadi kerusakan seperti atap bocor, para pedagang kerap patungan untuk memperbaikinya secara mandiri.
“Biasanya juga kalau ada yang rusak, jebol, bocor, listrik rusak, paling patungan, bayar siapa yang bisa buat benerin,” ucapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Y dan pedagang lainnya juga menghadapi penurunan omzet.
Harga modal daging ayam saat ini kata Y, bahkan telah naik menjadi Rp 45.000 per ekor dari sebelumnya sekitar Rp 33.000 per ekor.
“Sekarang orang udah sepi pembeli. Langganan sih sebenernya masih ada, cuma yang dulu biasanya beli dua, sekarang beli cuma satu ekor karena budget-nya adanya segitu,” ungkapnya.
“Buat makan sama jajan anak aja udah syukur itu, boro-boro dah kalau bayar renovasi, tabungan aja enggak punya kita sekarang,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut lanjut Y, dia mengaku lebih memilih bertahan berjualan di bangunan dengan fasilitas seadanya daripada harus membayar biaya revitalisasi puluhan juta rupiah.
“Paling kalau emang tetep disuruh bayar, ya kita mendingan kayak gini aja udah, enggak apa-apa, apa adanya dinikmatin. Enggak usah direnovasi, enggak sanggup juga bayarnya,” tutup Y.
Sementara itu, frekuensiinformasi.com telah berupaya menghubungi Manajer/Humas Perumda Pasar Jaya Topik Hidayatullah untuk mengonfirmasi terkait keluhan para pedagang Pasar Serdang tersebut. Namun, hingga berita ini ditayangkan, belum berhasil. (Joe)















