banner 728x250

Masih Banyak Daerah 3 T Di Wilayah Kami: Pusat Tak Tahu Kita Menderita, 3 Keluarga Guru Tinggal Dirumah Reot

Bupati Siak Menangis Melihat Kondisi di Daerahnya yang Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) - (Foto/Ist)

Pekanbaru, Frekuensi Informasi – Air mata Afni Zulkifli mengalir deras saat melihat langsung tiga keluarga guru yang harus tinggal bersama dalam satu rumah kayu reot. Bupati Siak itu tak kuasa menyaksikan kondisi Dusun Mungkal, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tempat tiga keluarga itu bertugas sebagai guru, Jumat (2/10/2026).

“Kita sama-sama tinggal di daerah yang kaya,” kata Afni dengan suara bergetar sambil menetes air mata.

Rumah kayu itu menjadi potret nyata pengabdian guru di pelosok Siak. Di tengah keterbatasan listrik dan fasilitas dasar, mereka tetap bertahan mendidik anak-anak negeri yang jauh dari pusat pemerintahan.

Keprihatinan itu tak berhenti di rumah guru. Afni juga mendapati anak-anak sekolah di Dusun Mungkal harus berjuang menempuh perjalanan hampir dua jam untuk berangkat dan pulang sekolah.

Tanpa bus sekolah, mereka berdesakan bahkan berdiri di bak kendaraan truk.  Melihat kondisi itu, tangis Afni kembali pecah.

“Saya baru jadi Bupati, baru satu tahun. Masih banyak rakyat kami yang masih seperti ini. Pusat tak tahu kita menderita seperti ini,” kata Afni berurai air mata.

Afni yang baru terpilih dan dilantik sebagai Bupati Siak, 4 Juni 2025 ini mengaku, selama ini persoalan masyarakat pelosok hanya ia terima lewat laporan. Baru kali ini ia menyaksikan langsung penderitaan itu. Sejak memimpin, Pemkab Siak memang menghadapi tekanan fiskal berat akibat keterbatasan anggaran, warisan utang, dan pengurangan transfer dana dari pusat.

Namun kata Afni, itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan warga 3T. Kini ada sedikit harapan. Pembangunan rumah guru yang lebih layak di Dusun Mungkal mulai berjalan dengan dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Kekayaan alam Siak Bagi salah seorang guru yang telah mengabdi selama 10 tahun, kabar itu begitu berarti. Selain rumah guru, Afni juga menyoroti kebutuhan mendesak lainnya seperti bus sekolah, listrik, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum menyentuh wilayah 3T.

“Sudah lama kami sampaikan, bermohon-mohon di setiap kesempatan. Tapi entah kapan dapat jawaban,” ujarnya. Kondisi itu, menurut Afni, menunjukkan kesenjangan yang dalam antara kekayaan alam Siak dengan nasib warganya di pelosok.

Karena itu, ia mempertanyakan rencana pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas Siak hingga 70 persen pada tahun depan. “Bagaimana mungkin sebegitu teganya ada DBH Migas kami dipotong sampai 70 persen tahun depan?” kata Afni.

Bagi Afni, DBH Migas bukan sekadar angka di APBD, melainkan penentu apakah anak-anak di Mungkal bisa mendapat bus sekolah, buku, listrik, dan rumah layak bagi gurunya. Di akhir kunjungan, Afni hanya bisa memanjatkan doa.

“Semoga Allah SWT memaafkan dan meridhoi apa-apa yang kami perjuangkan,” katanya. Kini, pembangunan rumah baru di Dusun Mungkal menjadi harapan besar.

Bagi tiga guru itu, rumah tersebut bukan sekadar bangunan. Setelah satu dekade mengabdi, mereka akhirnya punya harapan untuk memiliki tempat pulang yang layak.  (Jef)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *