banner 728x250

Akibat Puting Beliung dan Cuaca Ekstrem Terjang Sumut, 1 TK Tertimbun Longsor dan 23 Rumah Rusak

Tanah Longsor Akibat Intensitas Hujan Tinggi di Sumatera Utara Pekan Lalu (Foto/Ist)

Sumut, Frekuensi Informasi – Akibat Cuaca ekstrem dan Angin Puting Beliung melanda Sumatera Utara, Minggu (27/9/2026) hingga Selasa (29/9/2026),  sedikitnya 23 rumah di Kabupaten Nias Selatan dan Batubara rusak, dan 1 TK terbawa longsor di Taput.

Kabid Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni, mengatakan, longsor di Taput terjadi di TK Yobel HKBP Simasom, Minggu (27/9/2026).

“Insiden terjadi di awali curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengakibatkan tanah longsor di lokasi sekolah di Desa Simasom, Kecamatan Pahae Julu,” kata Sri Wahyuni dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/9/2026). Akibat longsor itu, jalan maupun fasilitas bermain di TK hancur dan tertimbun tanah.

Tidak ada korban jiwa maupun luka karena ruangan dalam keadaan kosong lantaran hari libur.

Pasca-insiden, gedung TK tidak bisa digunakan demi mengantisipasi terjadinya longsor susulan.

“Kondisi bangunan TK saat ini tidak bisa lagi difungsikan untuk kegiatan belajar mengajar karena masih tergolong rawan bencana dan dikhawatirkan akan terjadi longsor susulan yang dapat membahayakan keselamatan,” ujar Sri Wahyuni. Puting Beliung di Batubara Selanjutnya, kata Sri Wahyuni, untuk di Batubara, puting beliung melanda tiga kecamatan, mulai dari Medang Deras, Air Putih, dan Sei Suka.

“Peristiwanya pada Selasa (29/9/2026) pukul 01.00 yang diawali hujan dengan intensitas tinggi, total keseluruhan ada 14 rumah yang rusak,” ungkap Sri Wahyuni.

Menurut Sri Wahyuni, tidak ada korban jiwa maupun terluka dalam insiden tersebut. Pasca kejadian personel BPBD bersama Pemkab Batubara membersihkan pohon yang menimpa rumah warga, sekaligus membantu warga yang atap dindingnya rusak terkena angin puting beliung.

“Hingga saat ini, lokasi terdampak masih dalam penanganan oleh pemerintah setempat,” katanya

Sementara itu, di Kabupaten Nias Selatan, peristiwanya terjadi di Desa Hiligeho Sogawu pada Selasa (29/9/2026) pukul 16.00 WIB. Akibat insiden ini, 9 rumah warga dan 3 perahu nelayan rusak. Sri Wahyuni mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih terus berkoordinasi dengan pemkab setempat untuk bisa ke lokasi terdampak.

“Kondisi terkini, kami belum bisa menuju ke lokasi karena posisinya berada di kepulauan yang terpisah dari kabupaten dan jarak tempuhnya 8 jam dari perjalanan laut,” tutur Sri Wahyuni.  (Pur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *