Sumut, Frekuensi Informasi – Di Kota Medan dan sekitarnya, kabut asap sejak pagi sudah mengepung. Meskipun tidak separah yang terjadi di Kalimantan, kondisinya sudah cukup untuk mengganggu aktivitas masyarakat.
Salah seorang sopir pengangkut barang bernama Muhammad Rio (26). Setiap hari dia menempuh jarak puluhan kilometer untuk mengantarkan dagangannya ke Kota Medan, Deli Serdang, Tebingtinggi, Kisaran, hingga Limapuluh.
“Agak gelap suasana dari tadi pagi. Namun, jarak pandang masih tergolong aman. Saya nyopir masih tampak, meskipun kabutnya lebih tebal dari hari sebelumnya,” kata Rio kepada Kompas.com, Rabu (14/10/2026).
Hari ini, Rabu (14/10) Rio mengantar dagangannya ke Kota Tebingtinggi. Selama perjalanan itu pula ia melihat kabut asap di mana-mana.
“Di jalan tol, kabut asap full. Saya tak pakai masker karena mengira belum separah ini. Tapi, ya mau bagaimana pun tetap bekerja demi dapat upah,” lanjutnya.
Sementara itu, masyarakat lain bernama Khoir Nurhaji (27) menjelaskan hal yang sama. Ia berangkat bekerja dari Kecamatan Tanjung Morawa menuju ke Kota Medan. Sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) kabut asap ada di mana-mana. Padahal, kemarin disebutnya jarak pandang sama sekali tidak terganggu.
“Ini aku berada di Jalinsum mau ke Pajak Melati. Di jalan sudah mulai tampak asap. Jarak 100 meter sudah tampak jelas kabut asapnya. Cuma kalau difoto mungkin belum terlalu tampak. Hari ini sudah lumayan parah. Asap sudah sampai sini,” kata Khoir.
Ia berharap bahwa Kota Medan hari ini diguyur hujan deras karena ia mengaku khawatir jika kabut asap masih menyelimuti udara.
“Kalau begini terus mengkhawatirkan juga. Seharian matahari tidak terlihat karena tertutup kabut asap. Sekitar yang kulihat putih semua,” akunya.
Ia juga menyinggung bahwa kesehatan masyarakat patut diperhatikan. Sebab, kabut asap bisa memicu penyakit paru-paru dan saluran pernapasan.
“Aktivitas sekarang kami pasti terganggu. Mungkin hari ini belum terlalu parah, tapi besok atau lusa ini sudah pasti parah,” prediksinya.
Ia berharap pemerintah bisa secepatnya menuntaskan masalah karhutla ini. Karena jika penindakan lamban, banyak manusia dan makhluk hidup lainnya menjadi terancam.
“Ini sudah terlalu parah. Bahkan di Sumut yang tidak ada karhutla justru sampai ke sini asapnya, bagaimana saudara kita di Kalimantan sana? Jangan sampai kita semua sepele dengan karhutla ini,” ungkapnya.
Bahkan, Kepala Balai Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah 1 Medan, Hendro Nugroho, mengatakan bahwa jarak pandang menurun hingga 4 Km karena tertutup asap.
“Hasil pengamatan dari Stasiun Meteorologi Aek Godang dan Stasiun Meteorologi Silangit, menunjukkan pada Rabu (14/10/2026 pukul 10.00 WIB terjadi penurunan jarak pandang menjadi berkisar antara 1-4 km,” ujar Hendro.
Namun, Hendro belum menjelaskan dari mana kabut asap tersebut. BMKG hanya dapat menganalisis pola pergerakan angin dan sebaran asap berdasarkan pemantauan atmosfer.
“Tetapi untuk memastikan sumber kebakaran (sebaran asap), diperlukan verifikasi lebih lanjut oleh instansi terkait seperti kementerian atau Dinas Kehutanan atau DLH (Dinas Lingkungan Hidup),” tambah Hendro.
Namun, dia juga mengatakan berdasarkan citra satelit, di Sumut tidak ditemukan adanya titik panas atau hotspot.
“Hasil pemantauan citra satelit pada sebaran titik panas (hotspot) di Sumatera Utara pada tanggal 13 Oktober 2026, tidak terdapat titik panas,” jelasnya.
Lalu, kata dia, akibat kabut asap ini berdasarkan pemantauan kualitas udara konsentrasi PM2.5 atau partikel sangat kecil di udara, kualitas udara di Sumut berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
“Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak kabut asap diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat kondisi udara berkabut atau jarak pandang menurun. Apabila memerlukan kegiatan di luar ruangan sebaiknya menggunakan masker yang sesuai,” tuturnya. (Pur)















