banner 728x250

Siswa SD di Pemalang Diduga Meninggal Akibat Dirundung 3 Kakak Kelasnya

Diduga Korban Perundungan Kakak Kelas, Anak SD Meninggal Dunia di Malang Jawa Timur (Foto/Ist)

Pemalang , Frekuensi Informasi – MHAQ (7), siswa kelas 2 SD di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sempat menyebut sejumlah anak yang diduga melakukan kekerasan terhadap dirinya sebelum meninggal dunia. Ayah korban, Nurwandi (43), mengatakan putranya bahkan sempat menunjukkan tiga anak yang diduga terlibat setelah diperlihatkan foto.

“Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6,” kata Nurwandi dikutip dari Kompas.com Edisi, Minggu (3 Oktober 2026, Pukul 19.10 Wib).

MHAQ meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026) sore setelah sebelumnya menjalani perawatan selama sembilan hari di RSUD dr M Ashari Pemalang.

Polisi masih menyelidiki rangkaian kejadian yang dialami korban. Jenazah MHAQ juga telah diautopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya. Korban sempat mengaku dipukul dan ditendang Ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengatakan MHAQ mulai menjalani perawatan di RSUD dr M Ashari pada Kamis (17/9/2026).

Pada awal perawatan, MHAQ disebut belum mau menceritakan apa yang terjadi kepadanya. Namun, setelah beberapa hari berada di rumah sakit, korban akhirnya mengungkapkan dugaan kekerasan yang dialaminya di sekolah

“Dia menjawab itu setelah diperiksa sama dokter, katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu,” ungkap Diah.

Selama sembilan hari menjalani perawatan, MHAQ disebut terus mengeluhkan sakit pada bagian perut. Menurut Diah, korban juga sempat muntah-muntah, buang air besar berdarah, tidak nafsu makan, dan mengalami kesulitan buang air besar.

“Selama sembilan hari yang sering dikeluhkan itu perut, sama seluruh badan kalau diangkat itu nangis,” tutur Diah.

Setelah sembilan hari dirawat, korban akhirnya diperbolehkan pulang. Keluarga sempat merasa lega karena kondisi MHAQ dinilai sudah cukup baik untuk meninggalkan rumah sakit. Namun, beberapa hari kemudian, korban kembali mengeluhkan sakit pada bagian perut hingga kondisinya memburuk.

Keluarga kemudian berupaya membawa MHAQ kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Plt Bupati Pemalang sebut sempat terjadi perselisihan dan pemukulan Plt Bupati Pemalang Nurkholes turut mendatangi rumah duka di Kelurahan Kebondalem pada Kamis (1/10/2026). Sebelumnya, ia juga mendatangi sekolah korban untuk mendapatkan informasi mengenai kronologi kejadian.

“Tadi ke sekolahan, dan mendapat laporan kronologi kejadian, memang ada perselisihan antara korban dan pelaku, kemudian terjadilah pemukulan,” ujar Nurkholes.

Meski demikian, ia menegaskan penyebab pasti meninggalnya MHAQ masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak berwenang.

“Kami masih menunggu, keterangan resmi dari kepolisian terkait penanganan kasus tersebut,” ujarnya.

Nurkholes juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap kasus serupa tidak kembali terjadi terhadap anak-anak di Kabupaten Pemalang.

Keluarga kecewa dengan pihak sekolah Diah dan Nurwandi mengaku kecewa terhadap pihak sekolah terkait penanganan dugaan perundungan yang dialami anak mereka. Menurut keluarga, mereka sebelumnya sudah mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan mengenai peristiwa yang dialami MHAQ.

Namun, keluarga menilai pihak sekolah terkesan menutup-nutupi persoalan tersebut. Mereka juga menyebut belum ada upaya mempertemukan keluarga korban dengan orangtua anak-anak yang diduga terlibat dalam kekerasan. Keterangan mengenai tiga anak yang diduga terlibat kemudian diperoleh keluarga langsung dari korban sebelum meninggal dunia.

Meski demikian, dugaan keterlibatan anak-anak tersebut masih harus didalami oleh kepolisian. Polisi lakukan autopsi untuk cari penyebab kematian Jenazah MHAQ kemudian menjalani autopsi di RSUD dr M Ashari Pemalang.

Pemeriksaan dilakukan oleh Tim Laboratorium Forensik dan Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jawa Tengah.

Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M. Faizal Wildan Umar Rela mengatakan, kepolisian melakukan pendalaman setelah menerima laporan masyarakat terkait kematian korban.

Sebelum autopsi dilakukan, polisi mendatangi rumah duka dan meminta keterangan dari orangtua serta sejumlah orang terdekat MHAQ. Pemeriksaan jenazah dilakukan setelah pihak keluarga memberikan persetujuan.

“Kami sudah datang ke rumah duka, dan sudah melaksanakan interogasi awal kepada orang tua, serta orang-orang terdekat korban. Lalu, Labfor dan Biddokkes sudah melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian korban,” lanjutnya.

Polisi masih menyelidiki secara menyeluruh rangkaian peristiwa yang dialami MHAQ sebelum meninggal dunia.

Pemeriksaan forensik dilakukan dengan melibatkan Biddokkes Polda Jateng melalui metode Scientific Crime Investigation.

“Nanti kami jelaskan, akan didalami bidforensik Biddokkes Polda Jateng, karena saat ini terkait pelaksanaan autopsi kami dibantu Biddokkes Polda Jateng secara Scientific Crime Investigation,” tuturnya.

Selain menunggu hasil autopsi, penyidik juga masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi. Hingga kini, penyebab pasti kematian MHAQ belum diumumkan.

Dugaan perundungan maupun keterlibatan tiga anak yang sempat disebut korban juga masih dalam proses penyelidikan kepolisian. (Tot)

(Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul “Pengakuan Bocah Kelas 2 SD di Pemalang Korban Dugaan Perundungan Sebelum Hembuskan Nafas Terakhir”) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *