Sumbawa, Frekuensi Informasi – Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa Barat, per 7 Oktober 2026, warga terdampak kekeringan tersebar di lima kecamatan, dengan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Poto Tano. Total korban mencapai 9.349 jiwa dari 2.326 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sumbawa Barat, Rahmat Muliadi, untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD Kabupaten Sumbawa Barat menyalurkan bantuan air menggunakan mobil tangki ke sejumlah wilayah terdampak.
Rahmat Muliadi mengatakan, penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan dilakukan setiap hari. Menurutnya, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki tersebut menjadi salah satu langkah penanganan yang dilakukan BPBD.
“Penyaluran air bersih sudah kami lakukan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak,” ujar Rahmat, Jumat (9/10/2026).
Data BPBD KSB menunjukkan, Kecamatan Poto Tano menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 5.213 jiwa dari 1.292 KK.
Berikutnya, Kecamatan Seteluk mencatat 1.848 jiwa dari 462 KK, Kecamatan Maluk sebanyak 1.264 jiwa dari 316 KK, Kecamatan Taliwang sebanyak 992 jiwa dari 248 KK, serta Kecamatan Jereweh sebanyak 32 jiwa dari delapan KK. Data tersebut dihimpun berdasarkan laporan pemerintah desa di masing-masing wilayah.
BPBD menyatakan jumlah warga terdampak masih bersifat sementara dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi di lapangan serta pembaruan data dari pemerintah desa. Kecamatan Poto Tano menjadi wilayah yang paling banyak melaporkan warga terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih di KSB. Dampak tersebut tersebar di lima desa, yakni Desa Poto Tano, Mantar, Senayan, Kiantar, dan Tambak Sari.
Desa Poto Tano mencatat jumlah warga terdampak sebanyak 484 KK atau 1.936 jiwa. Disusul Desa Mantar dengan 310 KK atau 1.240 jiwa, Desa Senayan sebanyak 286 KK atau 1.144 jiwa, Desa Kiantar sebanyak 165 KK atau 660 jiwa, serta Desa Tambak Sari sebanyak 47 KK atau 233 jiwa. “Penyaluran air bersih menggunakan mobil tangki menjadi salah satu langkah penanganan darurat untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Rahmat.
Namun, menurut dia, upaya penanganan kekeringan juga memerlukan pemantauan berkala agar bantuan dapat disalurkan sesuai kebutuhan dan menjangkau warga yang mengalami keterbatasan akses air bersih.
Selain penanganan darurat, Rahmat menyebut, ketersediaan air bersih dalam jangka panjang perlu didukung oleh pengembangan sumber air alternatif, pembangunan sarana penampungan, serta peningkatan infrastruktur penyediaan dan distribusi air sesuai kondisi geografis masing-masing wilayah.
Pemutakhiran data warga terdampak dan koordinasi antara BPBD, pemerintah desa, serta instansi terkait juga menjadi bagian penting dalam menentukan wilayah prioritas penanganan. (Gln)















