banner 728x250

Usai Bandara Riyadh Diserang, Puing Rudal Hantam TK

Bandara Riyadh Diserang, Puing Ledakan Rudal Hantam Salah Satu Sekolah TK (Foto/Ust)

LN, Frekuensi Informasi – Otoritas Arab Saudi mengklaim 3 warganya, 1 pilot tewas akibat serangan Houthi di bandara internasional Riyadh. Insiden mematikan itu terjadi Kamis (8/10/2026) menandai meluasnya eskalasi perang antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Sebagaimana dilansir AFP, Jumat (9/10/2026).

Serangan di ibu kota Arab Saudi tersebut memicu kepanikan warga. Ledakan terdengar menggema di berbagai penjuru kota pada Kamis, memaksa para diplomat yang bertugas di sana untuk berlindung. Sekolah-sekolah internasional langsung mengambil langkah pengamanan darurat.

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan bahwa dua serangan yang menyasar bandara Riyadh dan sebuah pesawat maskapai Saudia telah mengakibatkan tiga warganya tewas.

Maskapai penerbangan nasional itu juga telah mengonfirmasi kematian kapten pesawatnya, sebagaimana dilansir AFP, Jumat (9/10/2026). Imbas dari serangan ini, banyak jadwal penerbangan di bandara Riyadh yang ditunda atau dibatalkan.

Badan pertahanan sipil setempat melaporkan, puing-puing sisa pencegatan rudal jatuh dan merusak sebuah taman kanak-kanak serta kompleks medis di kota tersebut. Pengakuan dari otoritas Saudi terkait jatuhnya korban atau rusaknya target sipil semacam ini terbilang sangat langka, menyusul minimnya pernyataan resmi mengenai serangan Houthi dalam beberapa pekan terakhir.

Ancaman penerbangan dan fasilitas minyak Menyusul eskalasi ini, Juru Bicara Militer Houthi Yahya Saree pada Jumat mengisyaratkan bahwa pesawat kini harus meminta izin kepada kelompoknya untuk dapat terbang masuk atau keluar dari ibu kota Saudi. “Penerbangan kemanusiaan ke dan dari Bandara Riyadh akan diizinkan untuk semua penerbangan yang disahkan,” tulis Saree di platform X, merujuk pada badan koordinasi Houthi di Sana’a.

Selain bandara, kelompok Houthi juga telah memperingatkan para pekerja untuk segera mengevakuasi diri dari fasilitas minyak Arab Saudi. Beberapa hari sebelumnya, mereka mengklaim telah menyerang sebuah kilang utama yang berada di selatan Riyadh. Di luar penguasaan wilayah pesisir Laut Merah di Yaman, Houthi secara agresif telah menggunakan drone dan rudal untuk menyerang pusat transportasi, fasilitas minyak, serta berbagai target sipil lainnya di negara pengekspor minyak mentah terbesar di dunia tersebut.

Serangan balasan ke Sana’a Sementara itu, di pihak Yaman, stasiun televisi Al-Massirah milik Houthi pada Jumat melaporkan, serangan balasan Arab Saudi ke bandara Sana’a telah menewaskan dua orang. Badan pertahanan sipil di ibu kota Yaman itu juga melaporkan adanya upaya pemadaman sejumlah titik api akibat serangan udara Saudi, di mana salah satunya menghancurkan sebuah pabrik.

Menurut koresponden AFP, serangan udara di Sana’a ini menargetkan posisi militer yang jauh dari kawasan permukiman warga, dan terjadi tak lama usai demonstrasi besar-besaran pendukung Houthi di kota tersebut.

Pertempuran sengit Konflik antara Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dan didukung Arab Saudi, telah melonjak tajam sejak Juli.

Setelah mendeklarasikan dimulainya serangan balasan terhadap Houthi, pemerintah Yaman mengeklaim telah memukul mundur para pejuang dari area strategis di pesisir Laut Merah dan kota pelabuhan Mocha. Pasukan yang didukung Saudi ini juga berupaya merebut kembali area di sekitar selat Bab al-Mandab, jalur yang sangat krusial bagi pelayaran global.

Namun, laporan di lapangan masih simpang siur. Seorang diplomat Saudi pada Jumat mengatakan bahwa pasukan yang didukungnya telah merebut kembali wilayah tersebut. Sebaliknya, sumber militer Yaman di lapangan justru memberikan keterangan berbeda kepada AFP.

Sumber tersebut membenarkan bahwa pasukan pemerintah telah meluncurkan “operasi besar” di kawasan selat dengan dukungan angkatan udara Saudi, tetapi ia menegaskan bahwa pertempuran berlangsung sengit dan kemajuan yang dicapai terbatas. Di sisi lain, Houthi bersikeras bahwa mereka masih mempertahankan wilayahnya. Media afiliasi Houthi bahkan mengeklaim bahwa serangan pasukan pemerintah di selatan selat telah berhasil dipukul mundur.

Terkait upaya damai, seorang sumber regional mengatakan kepada AFP pada Jumat bahwa Arab Saudi tidak akan tunduk pada Houthi. Mereka juga dipastikan tidak akan menyetujui gencatan senjata sampai pemerintah Yaman berhasil merebut kembali seluruh wilayah yang hilang dalam beberapa pekan terakhir.

Di tengah kebingungan dan perang yang kian memanas, warga sipillah yang harus membayar harga termahal. Menurut data PBB, di Yaman yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia, tercatat lebih dari 200.000 orang telah mengungsi sejak bulan Juli lalu. (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *