Ciamis, Frekuensi Informasi – Air irigasi di Dusun Ciloa, Desa Sukahaji, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, diduga tercemar limbah berbahaya dan beracun (B3). Menurut warga, Irigasi tersebut berasal dari Sungai Cibaruyan, tak jauh dari permukiman.
Pantauan di lapangan, kondisi air tampak menghitam dan berbau, seperti air comberan yang biasa ditemui di pusat kota. Diduga menjadi penyebab Ikan yang dipelihara warga di beberapa kolam mati massal.
Bahkan, warga tidak bisa memakai air untuk sekadar mencuci kaki usai bercocok tanam di sawah. “Airnya bikin gatal-gatal,” kata Sulaeman, salah seorang warga saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (12/10/2026).
Yang lebih parah, air kotor tersebut merembes ke sumur di rumah Sulaeman. Saat ini, air dari sumurnya tidak bisa dipakai untuk sekadar mencuci piring maupun baju.
“Sumur juga bau airnya. Mencuci tak bisa, dipakai wudhu pun tak bisa,” ujar Sulaeman.
Menurut dia, dulunya air di irigasi tersebut bersih karena aliran airnya berasal dari Gunung Syawal.
Dusun Ciloa tidak jauh dari kaki Gunung Syawal. “Dulu airnya jernih, bersih. Mencuci juga suka di irigasi, sekarang tidak bisa,” ujarnya.
Sulaeman menduga, air sungai tercemar limbah pengolahan tahu dan peternakan ayam petelur. Air yang tercemar mengalir hingga irigasi di Desa Sukahaji. Menurut dia, pencemaran sungai pernah terjadi tahun 2020.
“Pernah demo tahun 2020. Sempat ada perbaikan (dari pengusaha tahu) bikin saluran limbah. Namun, sekarang terjadi lagi,” kata Sulaeman.
Warga lainnya, Yoyoh mengaku sudah tiga kali ikan peliharaannya mati massal. Jumlahnya lebih dari satu kuintal.
“Ini yang ketiga ikan-ikan di kolam mati,” keluh Yoyoh. Menurut dia, kondisi sekarang dirasakan lebih parah. Dulu ikan yang mati masih bisa dikonsumsi, tetapi sekarang daging ikannya bau sehingga tidak bisa dikonsumsi.
Untuk keperluan memasak, Yoyoh membeli galon isi ulang. Satu galon dipakai selama dua hari. “Beli galon dua kali sehari,” katanya.
Warga lainnya, Haroh, menambahkan, air sumur tercemar membuat pengeluarannya bertambah. Dia terpaksa mengeluarkan uang tambahan untuk membeli air galon isi ulang.
“Air sumur tak bisa dipakai mandi, apalagi memasak. Airnya mirip oli, hitam,” katanya. Haroh meminta perhatian dari pemerintah.
Dia dan warga lainnya ingin air yang mengaliri irigasi kembali normal, kembali jernih seperti sebelumnya. “Warga ingin air seperti semula, bersih, bisa dipakai mencuci,” ujarnya. (Sug)















