banner 728x250

Gunung Anak Krakatau Erupsi 6 Kali, Warga Diimbau Jangan Mudah Terprovokasi

Erupsi Gunung Anak Krakatau (Foto/Ist)

Lampung, Frekuensi Informasi – Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan terjadi enam kali erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. “Iya ada enam kali erupsi,” kata Suwarno saat dikonfirmasi, Minggu (18/10/2026).

Swarno membenarkan enam kali gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Minggu (18/10/2026). Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal dan mencapai ketinggian 500 meter di atas puncak.

Ia mengatakan, kolom asap yang terlihat saat erupsi terbilang cukup tebal. Meski aktivitas tersebut berlangsung berulang, masyarakat diminta tetap mengacu pada rekomendasi resmi dan tidak mendekati kawasan berbahaya.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), salah satu erupsi terjadi pada pukul 11.44 WIB.

Kolom abu teramati mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 657 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal dan condong ke arah utara.

Saat laporan dibuat, erupsi masih berlangsung. Namun, tidak terdengar suara dentuman. Erupsi berikutnya tercatat pada pukul 12.01 WIB, dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak. Kolom berwarna hitam dan condong ke arah utara. Aktivitas ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi sekitar 41 detik. Pada pukul 12.59 WIB, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi.

Kolom abu teramati setinggi sekitar 100 meter di atas puncak, berwarna kelabu hingga hitam, dan condong ke arah timur laut. Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 56 milimeter dan durasi sekitar 36 detik.

Laporan pengamatan periode pukul 06.00–12.00 WIB juga mencatat lima kali letusan dengan tinggi kolom 100–500 meter. Dengan demikian, aktivitas erupsi berlangsung berulang pada hari itu.

PVMBG menetapkan Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki dilarang memasuki atau beraktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

Larangan juga berlaku untuk kawasan dalam radius satu kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tengara Anak Krakatau. Suwarno menegaskan, masyarakat perlu mematuhi batas aman tersebut.

Aktivitas erupsi yang berulang disertai kolom abu tebal menjadi alasan penting untuk tidak mendekati kawasan gunung. “Masalah statemennya, masih dalam radius lima kilometer,” kata Suwarno.

Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak lava panas dengan air laut atau air hujan dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

Warga Diminta Tak Terpancing Tsunami PVMBG. Masyarakat di wilayah pesisir Lampung dan Banten tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut erupsi Anak Krakatau otomatis menyebabkan tsunami.

Warga diminta menjalankan aktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan memantau informasi resmi dari otoritas terkait.

Suwarno juga mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati kawasan terlarang dan mengikuti rekomendasi keselamatan yang berlaku. Untuk memperoleh informasi aktivitas gunung api. Masyarakat dapat menghubungi PVMBG di nomor (022) 7272606 atau Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, Banten, melalui nomor (0254) 651449 atau 085846324506. (AG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *