banner 728x250

Tim SAR Berencana Hentikan Pencarian Speed Boat Arupadhatu 1 yang Hilang Kontak di Perairan Selat Sunda

Sejumlah anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta menggelar doa bersama di Yogyakarta. Mereka menggelar doa bersama sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pencarian lima orang jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak saat melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. - (Foto/Ist)

Jakarta, Frekuensi Informasi – Tim SAR memutuskan untuk menghentikan operasi pencarian terhadap speed boat Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kamis (17/9/2026). Pasalnya, operasi SAR yang dilakukan selama 10 hari terakhir tidak juga membuahkan hasil.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, mengatakan terdapat nomor telepon milik salah satu jurnalis yang terdeteksi pada hari pertama setelah kapal dinyatakan hilang kontak. Nomor itu disebut milik Firdaus Wajidi dari Anadolu.

“Nomor tersebut milik Bang Daus, salah satu jurnalis yang berada di dalam kapal. Menggunakan kartu Telkomsel Kartu Halo dengan perangkat iPhone 14,” kata dia, Kamis malam.

Maruli menjelaskan, nomor tersebut terdeteksi oleh jaringan BTS di wilayah Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya di sekitar Pulau Sebesi. Setelah itu, perangkat tersebut dalam kondisi tidak aktif dan sampai saat ini tidak terdeteksi menyala.

“Artinya, sebelum dinyatakan hilang kontak, masih ditemukan adanya transaksi elektronik di handphone tersebut. Berarti itu di hari Senin, melalui telepon atau telepon WA atau SMS atau chat WA yang ter-record di tower BTS di daerah Pulau Sebesi,” kata dia.

Sementara terkait temuan jenazah di Pulau Enggano Provinsi Bengkulu, Maruli mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk melakukan proses identifikasi dan persesuaian data. Berdasarkan informasi awal, jenazah tersebut berjenis kelamin laki-laki, dengan perkiraan usia sekitar 50 tahun dan tinggi badan kurang lebih 163 sentimeter.

Menurut dia, jenazah itu mengenakan celana pendek jenis boxer ketika ditemukan. Kondisi jenazah juga disebut telah berbau.

“Pada saat ditemukan tidak ada keluarga di wilayah Pulau Enggano yang merasa kehilangan, sehingga dari Forkopimcam di wilayah Enggano menguburkan malam hari tersebut,” kata dia.

Personel Basarnas menunjukkan rute pencarian kapal cepat yang hilang kontak di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, Rabu (9/9/2026). Tim SAR gabungan memperluas cakupan area pencarian dan membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) pada hari kedua pencarian delapan penumpang kapal cepat rombongan jurnalis yang dilaporkan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.

Meski begitu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk melakukan ekshumasi. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk dilakukan pemeriksaan dan proses identifikasi.

Maruli mengatakan, Polda Banten telah menyerahkan data antemortem yang diperoleh dari keluarga para korban, termasuk data DNA, kepada Polda Bengkulu. Saat ini, Polda Bengkulu masih melakukan proses identifikasi terhadap jenazah tersebut.

“Saat ini proses identifikasi masih berlangsung dan dilakukan secara ilmiah oleh tim terkait, proses identifikasi pada umumnya membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. Namun demikian, Polda Banten berharap proses tersebut dapat diselesaikan lebih cepat sehingga dapat memberikan kepastian kepada keluarga,” kata dia.

Tim SAR gabungan masih belum menemukan keberadaan speed boat Arupadhatu 1 hingga hari ke-10 pada Kamis (17/9/2026). Keberadaan delapan orang yang berada di dalam kapal, termasuk lima jurnalis foto masih juga belum ditemukan.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, pencarian terhadap speed boat Arupadhatu 1 telah dilakukan selama tujuh hari ditambah waktu perpanjangan selama tiga hari. Namun, hingga saat ini tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang dan awak yang berada di kapal tersebut. Alhasil, tim SAR gabungan memutuskan untuk menghentikan operasi.

“Pihak Basarnas telah menyampaikan bahwa karena sudah dinilai tidak efektif rencana dalam pelaksanaan pencarian dan pertolongan ini, maka dengan berat hati, pelaksanaan operasi gabungan ini oleh pihak yang berkepentingan atau pihak yang memiliki wewenang dinyatakan dihentikan,” kata dia, Kamis malam.

Ia menyatakan, tim SAR gabungan telah menemukan sejumlah objek dalam operasi pencarian. Menurut dia, total 13 objek yang ditemukan selama operasi. Setelah diverifikasi, seluruh objek tersebut tidak berhubung dengan speed boat Arupadhatu 1.

Meski telah dihentikan, Andra mengatakan, operasi SAR dapat dilakukan kembali ketika terdapat informasi dari masyarakat terkait speed boat Arupadhatu 1. “Operasi ini bisa dihidupkan kembali atau dilaksanakan kembali, bilamana ada penemuan petunjuk baru yang bisa dibuka kembali beberapa proses evakuasi atau upaya evakuasi,” kata dia.

Ia pun berterima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat dalam operasi SAR yang dilakukan selama 10 hari belakang. Tak hanya itu, ia menyampaikan belasungkawa atas peristiwa hilangnya speed boat Arupadhatu 1.

“Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas lebih ditemukannya sahabat-sahabat kita, keluarga-keluarga kita yang berada di Arupadhatu 1. Semoga kita mendapatkan informasi yang bisa kita tindaklanjuti,” kata dia.

Diketahui, terdapat delapan orang yang dilaporkan hilang dalam peristiwa tersebut. Kedelapan korban terdiri dari Warta selaku kapten kapal, Surakman selaku anak buah kapal (ABK), Heriyanto selaku guide, serta lima orang jurnalis, yaitu M Bagus Khoerunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *