banner 728x250

Warga Keluhkan Dentuman Petasan Saat Maulid Nabi di Jaksel Bikin Anak Kejang

Letusan Petasan Begitu Dahsyat Saat Maulid Nabi Diprotes Warga (Foto/Ist)

Jakarta, Frekuensi Informasi – Penyalaan kembang api atau petasan besar usai acara Maulid Nabi di Pondok Pinang pada Sabtu (3/10/2026) malam lalu menuai protes warga. Salah satu warga yang merasa dirugikan, Amanda Andono (50), menyebutkan saat itu dia dan anak bungsunya sudah tidur.

Tiba-tiba, sekitar pukul 23.30 WIB, terdengar suara letupan yang sangat kencang dan mengagetkan. Menurut Amanda, suara kembang api itu tak biasa. Intensitasnya terdengar seperti kembang api yang dilepaskan saat konser musik.

“Ini dentuman, suaranya tuh kayak bom yang diledakkan. Dan itu tidak berhenti-henti sampai setengah jam lebih,” ungkap Amanda saat dihubungi wartawan lewat telepon, Senin (5/10/2026).

“Dengan suara kembang api seperti itu, itu udah kayak konser besar. Makanya saya bilang, ‘Emangnya ini di JIExpo? Emangnya ini Pestapora?’” sambung dia.

Anak Amanda, yang merupakan penyandang disabilitas cerebral palsy, langsung kejang lalu menangis setelahnya.

“Dia kebangun karena suara sehingga kejang gitu. Anak-anak cerebral palsy ini kan lebih ke sarafnya (sensitif). Kalau ada suara yang terlalu menggelegar, dia pasti akan kaget dan akan berakibat di kesehatannya,” tutur Amanda.

Sebetulnya, anak perempuan berusia 12 tahun itu sudah beberapa kali diajak menonton konser. Namun, dia tak pernah kejang. Baru kali ini, suara dentuman yang berulang-ulang membuat dia bereaksi seperti itu.

Saat dia mencari sumber keriuhan itu, Amanda mendapati satu alat khusus yang menembakkan banyak kembang api ke langit. Mulut alat yang menyemburkan kembang api tampak seperti gunung berapi. “Ini enggak sama kayak seratus kembang api dibakar. Bunyinya juga beda, bukan yang ciut-ciut (suara kembang api meluncur ke langit), tapi tuh yang bum-bum (ledakan) gitu,” ujar dia.

Amanda kemudian mendatangi lokasi acara Maulid Nabi. Menurut dia, sebetulnya riuhnya acara itu sudah mulai meningkat sejak sore. Dia berpikir, riuhnya akan turun seiring berjalannya waktu. Namun, ternyata acara itu menyimpan kembang api yang menggelegar dan baru pertama kali terjadi di sana.

“Saya tinggal di sini dari tahun ’82 tidak pernah ada kejadian seperti ini sama sekali. Seberisik-berisiknya ada kembang api atau bagaimana, itu enggak seberisik ini,” kata dia. Amanda kemudian meminta dipertemukan dengan panitia penyelenggara acara. Namun, sejumlah pria langsung meminta dia pergi.

Mereka menyampaikan maaf sembari terus mendorong Amanda mundur. Hal tersebut membuat dia nyaris jatuh ke selokan. Anaknya yang mendampingi sambil merekam video juga mendapat luka cakar di tangannya.

Saat itu, Amanda sempat melapor ke Polsek Kebayoran Lama. Namun, karena tidak ada unit khusus untuk pengaduan kasus perempuan dan anak, Amanda hanya mendapat pendampingan.

Menurut Amanda, ada beberapa warga lain yang sempat mengajukan protes.

Salah satunya seorang warga yang halaman rumahnya mendadak berubah menjadi lahan parkir peserta acara itu.

Namun, warga bernama Benita itu tak sempat mendokumentasikan perlakuan tak mengenakkan yang dia terima dari orang-orang di sana. “Mampet sekali sehingga dia sendiri tidak bisa masuk ke dalam rumah. Lalu dia minta dipindahkan mobilnya (yang parkir), ternyata sudah nunggu 20 menit enggak bisa masuk-masuk juga, ya dia kesal kan. Nah, setelah dia marah-marah itu, dia dikeroyok tapi enggak video,” jelas dia.

Warga lainnya datang setelah Amanda, mengajukan protes, lalu didorong mundur juga

Keesokan harinya, Amanda dan dua warga lainnya dipertemukan dengan pihak penyelenggara acara dalam upaya mediasi. Mereka meminta maaf kepada warga. Namun, mereka menolak berdamai dan memilih menempuh jalur hukum. “Oh, enggak. Kami enggak terima (maafnya). Kami bertiga mau lapor polisi. Saya sore atau enggak malam ini,” kata dia.  (Joe)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *