banner 728x250

Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Diduga Lecehkan Santriwati Belum Ditangkap

Masyarakat Databgi Pompes (Foto/Ist)

Lombok, Frekuensi Informasi – Polresta Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), belum menangkap pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Tuan Guru Haji (TGH) Ahmad Imanuddin Sumar (AIS), yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap santriwati. Kasatreskrim Polresta Lombok Tengah AKP Punguan Hutahaean mengatakan, pimpinan ponpes yang diduga terlibat hingga kini belum diamankan karena proses penanganan perkara masih berlangsung.

Penyidik saat ini memfokuskan pemeriksaan terhadap para saksi, termasuk korban dan pelapor. “Pimpinan Ponpes belum diamankan, masih di Mataram,” kata Punguan, Selasa (22/9/2026), dilansir dari Antara.

Telah Datangi Ponpes Menurut dia, pihaknya telah mendatangi pondok pesantren yang diduga menjadi lokasi kejadian. Dari kunjungan itu, penyidik menemukan pihak ponpes cenderung tertutup. Karena itu, penyidik membuka ruang komunikasi bagi pihak yang memiliki informasi untuk menyampaikan keterangan dan menyerahkan barang bukti secara terbuka.

Punguan menegaskan bahwa saat ini kasus dugaan pelecehan seksual ini menjadi prioritas kepolisian. “Termasuk mengawal hak santri yang mungkin masih takut melapor,” ucapnya.

LPA Identifikasi 5 Santri Jadi Korban Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram Joko Jumadi mengatakan pihaknya telah memantau kasus tersebut sejak 2024. Joko mengatakan LPA pada 3 Februari 2025 telah menyampaikan laporan pengaduan kepada Polresta Lombok Tengah dengan satu orang korban.

“Hanya saja saat itu pihaknya memahami alat bukti yang diperoleh masih sangat minim, sehingga kami bersama wartawan BBC melakukan investigasi dan akhirnya ada beberapa alat bukti yang bisa kami dapatkan, sehingga hari ini kami menyampaikan ke Polresta Lombok Tengah,” terangnya. Ia mengatakan sejumlah barang bukti tambahan telah diserahkan kepada penyidik, antara lain rekaman pengakuan oknum pimpinan pondok pesantren serta video rekaman istri pimpinan ponpes tersebut.

Joko menambahkan, selain satu korban yang sebelumnya melapor, hasil identifikasi LPA menemukan sedikitnya lima santri yang diduga menjadi korban oknum pimpinan ponpes tersebut.

“Hanya saja sebagian korban ada di Mesir dan ini yang membuat salah satu tantangan dari pengungkapan kasus ini. Mengingat alat bukti yang cukup kuat adalah yang di Mesir ini ada dua orang,” ujarnya. Menurut Joko, dari lima korban yang teridentifikasi terdapat korban yang diduga mengalami percobaan pemerkosaan dan sebagian lainnya mengalami pelecehan secara fisik. “Ada dugaan dari lima korban ada korban yang sampai disetubuhi, namun menurutnya korban tersebut besar kemungkinan tidak mau membongkar kasus itu,” katanya.

Ia mengatakan tidak seluruh korban bersedia menjadi pelapor karena diduga masih menghadapi pertimbangan tertentu.

“Jadi dari lima korban ini tidak semua berpihak ke kita sebagai pelapor, bisa jadi karena takut atau lebih membela pelaku,” tukas Joko.  (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *