banner 728x250

Dari 628 Titik Api di Papua, Papua Selatan Terbanyak dengan Angka 483 Hotspot

Karhutla di Provinsi Papua (Foto/Ist)

Jaya Pura, Frekuensi Informasi – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mencatat jumlah titik api atau hotspot di enam provinsi Papua turun dari 3.487 menjadi 628. Sebelumnya, berdasarkan hasil pemantauan hotspot tanggal 19 Oktober pukul 02.00 WIT hingga 20 Oktober pukul 02.00 WIT, terpantau sebanyak 3.487 titik api.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.997 titik atau 85,9 persen memiliki tingkat kepercayaan sedang. Sementara itu, 439 titik atau 12,6 persen masuk kategori kepercayaan rendah dan 51 titik atau 1,5 persen memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura Sri Dewi Sundari mengatakan, 628 titik api didominasi tingkat kepercayaan sedang sebanyak 406 titik (64,6 persen), diikuti tingkat kepercayaan tinggi sebanyak 149 titik (23,7 persen) dan tingkat kepercayaan rendah sebanyak 73 titik (11,6 persen).

Sebaran titik api paling banyak terpantau di Provinsi Papua Selatan yakni sebanyak 483 titik yang tersebar di Kabupaten Merauke sebanyak 338 titik, diikuti Mappi sebanyak 90 titik, dan Kabupaten Boven Digoel sebanyak 55 titik. Kemudian Provinsi Papua tercatat 11 titik api, Papua Barat 43 titik, Papua Barat Daya lima titik api, Papua Pegunungan 86 titik api.

Untuk Provinsi Papua Tengah tidak terdapat titik api,” kata Sri Sundari, Kamis (22/10/2026), dilansir dari Antara.

Menurut Sri Sundari, keberadaan titik api di tengah musim kemarau perlu menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat.

Asap karhutla berpotensi menurunkan kualitas udara dan memicu gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain itu, asap dapat mengganggu transportasi darat dan udara akibat berkurangnya jarak pandang. Kebakaran juga berisiko merusak lahan pertanian dan perkebunan.

Ia berharap pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan koordinasi, pertukaran data dan informasi, serta penanganan dan mitigasi secara terpadu.

Sri Sundari juga menekankan pentingnya memastikan kesiapan personel, sarana, dan prasarana untuk menangani karhutla. Selain itu, sistem peringatan dini perlu diperkuat melalui pemantauan titik api, kondisi cuaca, dan perkembangan fenomena El Niño. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengantisipasi potensi karhutla di wilayah Papua.  (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *