banner 728x250

Suara Kresek-Kresek di Lampu Merah, Kisah Anak Kls-4 SD  Penopang Ekonomi Keluarga

Pengemen Cilik Sedang Menggoyang Botol Aqua Berisi Batu Kerikil Bunyi Kresek Kresek Kresek Untuk Menarik Perhatian Pengendara yang Menunggu Lampu Merah Di Perampatan Jln. Joyo Martono dengan Jln. Inspeksi Kalimalang (Foto/Dok-FI)

Kota Bekasi, Frekuensi Informasi – Pukul 20.30 WIB, di perempatan Jln. Joyo Martono dengan Jln. Inspeksi Kalimalang, percis lampu merah menyala dan Kendaraan berhenti.

Di sela deru knalpot dan klakson, terdengar suara “kresek… kresek… kresek”. Bukan musik, itu suara botol Aqua bekas berisi batu kerikil yang digoyang seorang gadis cilik. Alat musiknya apa adanya, tapi semangatnya luar biasa.

Namanya sengaja disamarkan “Yolanda”. Dia mengaku duduk dibangku kelas 4 SD Usia baru 10 tahun.

Yolanda mengaku anak kedua dari 4 bersaudara. Ayahnya sopir truk tangki air bersih. Ibunya Ibu Rumah Tangga.

“Penghasilan bapak sama ibu nggak cukup buat 4 orang,” katanya pelan saat ditemui di sela ngamen.

Dengan polos ia bercerita, ia memilih turun ke jalan bukan karena mau. Tapi karena dipaksa situasi.

Sejak pukul 18.00 – 21.00 WIB, selama 3 jam, Yolanda menyusuri sela-sela mobil. Botol Aqua jadi alat musiknya. Tidak ada gitar, tidak ada suling. Hanya kerikil dan harapan.

Ditanya, nak! apakah tidak takut ada yang ganggu berbuat tak diinginkan buat kamu ?
Ia menggeleng. “Sudah biasa. Nggak takut.”

Ditanya seberapa besar yang dihasilkan ngamen dan digunakan untuk apa? “Hasilnya tidak seberapa. Kadang hanya Rp.10.000, 15.000. Kalau lagi baik, bisa Rp30.000, dan pulang langsung diserahkan ibunda,” kata Yolanda duduk ditrotoar sambil selonjoran kaki karena kelelahan berdiri.

Menurut Yolanda, semua uang itu tidak ia simpan, langsung diserahkan ke ibunya di rumah.

Bayangkan. Anak seusia SD, yang seharusnya PR dan tidur, kini harus berhadapan dengan hiruk pikuk jalanan demi sepiring nasi untuk adik-adiknya.

Prihatin, Tapi Kita Harus Angkat Topi

Kisah Yolanda membuat kita prihatin. Seharusnya ia bermain, belajar, dan bermimpi seperti anak-anak lain. Tapi di sisi lain, harus diberi pujian setinggi-tingginya.

Di usia 10 tahun, Yolanda sudah paham arti tanggung jawab. Sudah paham arti berbagi beban. Ia tidak mengeluh, Ia bekerja.

Suara Kresek-kresek dari botol Aquanya bukan sekadar minta belas kasihan. Itu adalah suara perjuangan seorang anak untuk keluarganya.

Yolanda mungkin tidak punya panggung megah, tapi dia punya hati yang jauh lebih besar dari panggung seusianya.

Semoga ada tangan-tangan baik yang melihat. Bukan hanya memberi receh di lampu merah, tapi juga membantu agar Yolanda bisa kembali fokus jadi anak sekolahan, bermain, dan bermimpi.

Karena anak hebat seperti Yolanda, berhak punya masa depan yang tidak harus diperjuangkan di jalanan.  (M. Aritonang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *