banner 728x250

Warga Menduga Ada Bendungan Alami dan Pembukaan Lahan di Hulu Sungai

Akibat Banjir Bandang (Foto/Ist)

Solok, Frekuensi Informasi – Bupati Solok, Jon Firman Pandu memastikan tidak ada pembukaan lahan di bagian hulu sungai yang menjadi pusat bencana banjir bandang di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Jon mengatakan, kawasan hulu sungai selama ini selalu diawasi karena lokasinya berhubungan langsung dengan kompleks pemerintahan.

Menurut dia, banjir bandang yang menerjang wilayah Gunung Talang bukan disebabkan aktivitas pembukaan lahan di bagian hulu. Jon menegaskan, tidak ada kaitan antara pembukaan lahan di hulu sungai dengan bencana banjir bandang yang terjadi.

“Ini memang murni bencana saja, jadi tidak ada sangkut pautnya,” tutur Jon Pandu.

Ia mengatakan pengawasan terhadap kawasan hulu terus dilakukan, terlebih lokasi tersebut berada di sekitar kompleks pemerintahan.

Warga Duga Ada Bendungan Alami

Sementara itu, warga Kecamatan Gunung Talang menduga terdapat bendungan alami di bagian hulu sungai yang menampung air hingga akhirnya meluap dan memicu banjir bandang. Dugaan itu muncul setelah aliran sungai yang disebut warga sebagai Sungai Air Baliang kembali kering setelah banjir bandang menerjang permukiman.

Warga setempat, Yanuarli, mengatakan sungai tersebut biasanya hanya berisi air ketika hujan turun. “Meski hanya terisi saat hujan, tidak pernah pula debit sungainya sebesar ini hingga menerjang pemukiman warga,” ujarnya.

Menurut Yanuarli, sepengetahuannya tidak pernah terjadi pembukaan lahan maupun penebangan liar di bagian hulu sungai. Di bagian hulu sungai, kata dia, biasanya hanya terdapat perkebunan. Dahulu, perkebunan kopi tersebut dikelola PT Krakatau. Namun, setelah izin pengelolaan berakhir, lahan tersebut dimanfaatkan masyarakat. “Kalau sekarang ada kebun kopi, markisah, cabai dan segala macamnya diatas tersebut. Jadi kalau pembukaan lahan tidak mungkin,” tuturnya.

Yanuarli mengatakan dirinya pernah melihat bendungan alami yang berada di bagian hulu ketika pergi ke ladang. Menurut dia, bendungan tersebut berukuran cukup besar. “Mungkin bendungan itu yang penuh, lalu airnya melimpah. Belum lagi kawasan ini berada di dekat gunung talang, mungkin ada hubungannya,” ujar Yanuarli. (Jup)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *