Jakarta, Frekuensi Informasi – Penurunan status Gunung Anak Krakatau (GAK) dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) membawa harapan baru bagi warga Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Bagi masyarakat yang tinggal di pulau terdekat dengan Gunung Anak Krakatau tersebut, turunnya status bukan hanya soal aktivitas vulkanik yang mulai mereda. Ada harapan lain yang ikut mengiringi, yakni kembali bergeraknya roda perekonomian warga, terutama dari sektor pariwisata.
Sekretaris Desa Tejang Pulau Sebesi, Riko Iswanto, mengatakan kondisi masyarakat saat ini sudah jauh lebih baik. Aktivitas sehari-hari warga juga berjalan normal meski sebelumnya Gunung Anak Krakatau sempat mengalami peningkatan aktivitas hingga berstatus Level III.
“Jauh lebih baik. Meskipun dari awal masyarakat asli Pulau Sebesi ini sejak erupsi alhamdulillah normal, kegiatan ataupun aktivitas sehari-hari seperti biasa. Apalagi sekarang sudah ada penurunan status, bisa dikatakan seperti biasa lagi,” kata Riko saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (22/9/2026).
Harapan Baru bagi Ekonomi Pulau Sebesi Riko mengatakan, masyarakat Pulau Sebesi sudah terbiasa hidup berdampingan dengan Gunung Anak Krakatau. Warga tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk berkebun, melaut, dan menjalankan usaha yang menjadi sumber penghasilan mereka.
Namun, aktivitas vulkanik GAK turut memengaruhi sektor wisata. Kekhawatiran wisatawan membuat jumlah kunjungan ke Pulau Sebesi belum kembali seperti kondisi normal.
Menurut Riko, kondisi udara di Pulau Sebesi kini juga jauh lebih baik. Ia berharap membaiknya kondisi tersebut dapat diikuti dengan meningkatnya kembali kunjungan wisatawan. “Udaranya jauh lebih enak, mudah-mudahan kondisi ini terus membaik sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal, termasuk sektor pariwisata menjadi salah satu penopang ekonomi warga,” ujarnya.
Meski aktivitas wisata masih berjalan, jumlah wisatawan yang datang saat ini disebut belum sebanyak biasanya.
“Jelas penurunan, tidak seperti biasanya. Setiap minggu ada yang masuk, tapi pesertanya (para wisatawan) tidak sebanyak biasanya,” kata Riko.
Ia berharap penurunan status GAK dapat membuat wisatawan kembali memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi terkini, sehingga kekhawatiran untuk berkunjung ke Pulau Sebesi berkurang.
“Mudah-mudahan dengan adanya informasi ataupun edaran dari pemerintah terkait penurunan status ini, wisatawan bisa tahu lagi bahwa statusnya sudah membaik dan mudah-mudahan bisa bertambah lagi,” lanjutnya.
Satu Wisatawan, Banyak Warga Ikut Mendapat Penghasilan Harapan serupa disampaikan Chandra, warga Pulau Sebesi sekaligus pelaku usaha wisata. Ia bersyukur aktivitas Gunung Anak Krakatau kini menunjukkan penurunan.
“Alhamdulillah. Status sudah aman, nyaman,” kata Chandra.
Menurut dia, masyarakat Pulau Sebesi tidak serta-merta menghentikan aktivitas ketika GAK masih berstatus Level III. Warga tetap bekerja dan menjalankan aktivitas ekonomi dengan menyesuaikan kondisi serta informasi yang tersedia.
Namun, sektor pariwisata memiliki efek berantai bagi banyak warga. Ketika wisatawan datang, bukan hanya pengelola wisata yang mendapatkan penghasilan.
“Kalau pengunjung masuk, warga semua berkesinambungan. Yang jualan laris, homestay kepakai, yang angkut kepakai. Semuanya di situ,” ujarnya.
Karena itu, bagi warga Sebesi, kembalinya wisatawan bukan sekadar soal ramainya kunjungan. Aktivitas wisata juga berkaitan dengan keberlangsungan penghasilan warga yang menyediakan penginapan, makanan, jasa transportasi, hingga kebutuhan wisatawan lainnya.
Status Turun, Aturan Keselamatan Tetap Berlaku Gunung Anak Krakatau sebelumnya berstatus Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Aktivitasnya kemudian meningkat dan sempat mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Setelah erupsi menerus berhenti, GAK masih mengalami tujuh kali erupsi strombolian. Namun, aktivitasnya kemudian terus menurun hingga akhirnya status gunung diturunkan menjadi Level II (Waspada) pada Senin (21/9/2026) pukul 18.30 WIB.
Erupsi terakhir tercatat pada 10 September 2026 pukul 09.10 WIB dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 17 detik. Setelah itu, tidak kembali tercatat erupsi dalam laporan aktivitas terbaru hingga 21 September 2026.
Meski status turun, warga maupun wisatawan tetap harus mematuhi rekomendasi keselamatan. Pada Level II, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati kawasan dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.
Chandra mengatakan masyarakat Pulau Sebesi berharap wisatawan kembali berkunjung dengan tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.
Ia juga menyebut kondisi udara di Pulau Sebesi saat ini sudah baik dan tidak lagi terganggu asap maupun debu.
“Alhamdulillah udara bagus, tidak ada asap, tidak ada debu. Mudah-mudahan ini jadi momentum kembalinya roda perekonomian masyarakat Pulau Sebesi dari sektor pariwisata,” kata Chandra.
Bagi warga Sebesi, penurunan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level II menjadi angin segar setelah aktivitas vulkanik sempat meningkat. Mereka kini berharap membaiknya kondisi GAK juga diikuti dengan kembalinya wisatawan, sehingga denyut ekonomi di pulau tersebut kembali lebih ramai. (Joe)















