Kota Bekasi, Frekuensi Informasi- Empat bulan berlalu sejak kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, santunan yang dijanjikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi masih dinanti keluarga korban.
Salah satu keluarga korban bahkan mendatangi Plaza Pemkot Bekasi pada Jumat (4/9/2026) untuk menanyakan kejelasan bantuan tersebut kepada Dedi.
Menanggapi hal itu, Dedi mengaku telah mendata sejumlah korban.
Ia kemudian meminta keluarga korban yang belum terdata untuk menyerahkan data kepada stafnya.
“Nanti datanya kasih ke saya. Tapi itu kan sifatnya juga kemanusiaan dari kita. Karena dari sisi tanggung jawab kan sebenarnya bukan tanggung jawab kita, tapi tanggung jawab PT KAI. Itu karena sumbangsih dari kita,” ujar Dedi, dikutip frekuensiinformasi, Minggu (6/9/2026) sembari mengatakan, bahwa sebelumnya pihaknya telah menyalurkan bantuan berdasarkan data yang diterima.
“Dan kemarin kan kita sudah nganterin semuanya dari data yang ada. Kalau Bapak datanya belum terdata, ya nanti kita bantu. Datanya sih Pak, namanya siapa, alamat di mana, kondisinya seperti apa.” ucapnya.
Menurut Dedi, bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk empati pemerintah kepada keluarga korban, bukan sebagai bentuk tanggung jawab atas kecelakaan.
“Itu kan sifatnya saya membantu nih dan hanya bersifat empati saja. Makanya waktu itu dari data yang saya punya, saya antar-antarin.” kata Dedi.
Ada kemungkinan data keluarga korban belum masuk dalam daftar penerima bantuan karena korban atau keluarganya sedang tidak berada di alamat sesuai KTP.
Oleh karena itu kata Dedi, dia kembali meminta keluarga korban menyerahkan data lengkap kepada stafnya agar dapat ditindaklanjuti.
Sesaat usai berbincang dengan Dedi Mulyadi, pihak keluarga korban enggan diwawancara awak media. Sebelumnya, sejumlah keluarga korban masih menanti kejelasan mengenai kelanjutan penanganan kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
Mereka mempertanyakan perkembangan hasil investigasi, pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan, santunan yang dijanjikan Dedi, hingga tindak lanjut yang dilakukan instansi terkait.
Ayah Nur Ainia Eka Rahmadynna, salah satu korban meninggal dunia, Hary Marwata (63), mengatakan, keluarga korban menginginkan proses penanganan kasus dilakukan secara terbuka, transparan, dan tuntas.
“Sampai sekarang kami belum mendapat informasi mengenai perkembangan penanganan kasus ini,” ujar Hary kepada awak media di Stasiun Bekasi Timur, Jumat (7/8/2026).
Pihak keluarga sempat menerima informasi mengenai hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Namun, hingga kini mereka belum mengetahui tindak lanjut dari hasil investigasi tersebut, termasuk pihak yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan itu.
Selain menunggu kejelasan proses hukum, keluarga korban juga berharap seluruh komitmen pemerintah, termasuk santunan dari Dedi, dapat direalisasikan.
“Bukan semata-mata karena nilainya, tetapi karena kami ingin semua yang sudah dijanjikan benar-benar direalisasikan dengan jelas,” ujarnya.
Sebagai informasi, kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Kecelakaan tersebut mengakibatkan 106 orang menjadi korban.
Sebanyak 16 orang meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka, termasuk beberapa korban yang mengalami cacat permanen. (Richi))















