banner 728x250

Warga Laporkan Petasan Larut Malam Saat Maulid Nabi, Menteri Agama Siap Kawal

Warga Pendukung Laporkan Penggunaan Petasan Larut Malam (Foto/Ist)

Jakarta, Frekuensi Informasi – Dukungan kepada keluarga yang melaporkan penggunaan petasan atau kembang api melewati tengah malam usai maulid nabi ditegaskan Staf Khusus Menteri Agama, Gugun Gumilar. Dia pun menyambangi kediaman salah satu warga terdampak, Amanda Andono (50), pada Senin (5/10/2026) malam.

Dukungan itu disampaikan ketika Warga yang mengeluhkan penggunaan kembang api atau petasan hingga melewati tengah malam dalam acara Maulid Nabi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Sabtu (3/10/2026) berniat melaporkan ke Aparat Penegak hukum (APH).

Menurut Amanda, penyelenggara acara Maulid Nabi tersebut tidak dapat dibenarkan. Penyelenggara tidak mampu menjaga ketertiban umum dengan membiarkan petasan diledakan lewat tengah malam yang membuat putranya kejang-kejang hingga kaget histeris.

“Jajaran Kementerian Agama dan juga Bapak Menteri itu tidak setuju dengan adanya acara seperti ini, gitu. Jadi beliau sendiri berharap bahwa kejadian saya ini adalah kejadian yang terakhir,” kata Amanda saat dihubungi wartawan, Senin.

Gugun, mewakili Menteri Nasaruddin Umar, juga mendorong agar Amanda tetap melanjutkan pelaporannya. Dia juga berjanji akan mengawal proses hukum. Untuk itu, Amanda diminta untuk selalu memberikan kabar terkait perkembangan kasusnya.

“Jadi malah beliau amat menyarankan untuk terus maju untuk melapor polisi. Kalau ada apa-apa nanti beliau akan ikut mengawal,” ujar dia.

Berita Terkait: https://frekuensiinformasi.com/2026/10/05/warga-keluhkan-dentuman-petasan-saat-maulid-nabi-di-jaksel-bikin-anak-kejang/

Dalam kunjungan itu, Gugun menyampaikan permintaan maaf karena gagal mengawasi kegiatan tersebut.

“Dia bilang ya ikut berduka cita, ikut sedih, gitu. Ya minta maafnya lebih ke enggak ngabsen posisinya. Jadi karena ini kan harusnya dalam pengawasan beliau,” jelas dia. Amanda berencana melapor besok setelah berkonsultasi dengan bantuan hukum di Polres Metro Jakarta Selatan.

Dia diminta untuk menyiapkan kronologi kejadian yang harus diserahkan dalam laporannya.

“Ya, saya akan datang sesuai dengan yang dimintakan, akan memberikan surat kronologi yang langsung ditujukan ke Bapak Kapolres,” kata dia. Amanda menolak jalur damai yang diupayakan pihak kelurahan dan kepolisian sebelumnya melalui mediasi

Salah satu alasannya, pihak penyelenggara acara dinilai tidak tulus menyampaikan permintaan maafnya.

“Mereka ya mereka cuma bilang ‘Ya maaf, kami salah, mungkin nanti kami enggak akan pasang kembang api lagi. Kembang api dialokasikan ke yang lain yang lebih berguna, terus kami minta maaf karena perlakuan,’ cuma kayak gitu aja dan permintaan maafnya itu saya melihat tidak tulus,” tutur dia. Terlebih, suara yang dihasilkan dari kembang api tersebut membuat anaknya yang mengidap cerebral palsy terbangun lalu kejang.  (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *