banner 728x250

BMKG: Saat Ini, Konsetrasi Polusi Udara Sekitar 48 Mikrogram per Meter Kubik di Jakarta.

Kondisi Udara di Jakarta (Foto/Ist)

Jakarta, Frekuensi Informasi – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat konsetrasi polusi udara sekitar 48 mikrogram per meter kubik di Jakarta. Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki mengatakan, peningkatan polusi udara di Jakarta telah terjadi sejak Juni 2026.

Konsentrasi polusi udara sepanjang Oktober 2026 di Jakarta memburuk, bahkan sebelum terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Hal ini disampaikan Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Minggu (18/10/2026).

Sementara konsentrasi polusi di wilayah Jambi, Sumatera Selatan, dan sebagian wilayah Kalimantan meningkat hingga sekitar 10 kali lipat.

Particulate Matter 2.5 (PM2.5) merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, yakni berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Partikel ini dapat berasal dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran sampah, hingga asap kebakaran hutan dan lahan. Marjuki menjelaskan, tingginya konsentrasi PM2.5 di Jakarta lebih banyak dipengaruhi sumber polusi lokal, bukan semata-mata oleh asap karhutla dari daerah lain.

Kondisi tersebut diperburuk oleh musim kemarau dan fenomena El Nino yang menyebabkan berkurangnya curah hujan.

Padahal, hujan berperan membantu mengendapkan polutan di atmosfer sehingga konsentrasinya di udara dapat berkurang.

Prakiraan kondisi udara Jakarta BMKG mencatat, konsentrasi PM2.5 harian yang ditinjau dari Stasiun Meteorologi Kemayoran, Jakarta Pusat per 17 Oktober 2026 menunjukkan kualitas udara Jakarta berada dalam kategori tidak sehat.

Kondisi ini diperkirakan berlanjut selama tiga hari berikutnya berdasarkan prediksi model System for Integrated Modelling of Atmospheric Composition (SILAM). Model tersebut memperkirakan kualitas udara di wilayah DKI Jakarta masih berada dalam kategori tidak sehat pada 18-20 Oktober 2026

Marjuki mengatakan, kondisi atmosfer dalam beberapa hari mendatang turut menentukan perubahan kualitas udara, terutama ketika hujan dan angin yang memadai tidak terjadi.

Menurutnya, sumber emisi yang cenderung tetap, minimnya hujan, serta angin yang kurang memadai untuk mengencerkan polutan dapat membuat kualitas udara bertahan pada kondisi serupa. Karena itu, polusi udara Jakarta dalam beberapa hari ke depan diperkirakan belum menunjukkan perbaikan signifikan. (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *