Jakrta, Frekuensi Informasi – Mantan Ketua DPR RI, Marzuki Alie, turut mengomentari unggahan Akbar Faizal yang mengkritik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat meninjau kondisi di sebuah SPBU.
Gibran diketahui turun langsung memantau situasi ketika melintas di SPBU Pertamina Jalan Tjilik Riwut Km 12, Palangka Raya, pada Kamis (10/9/2026).
Video kunjungan Gibran tersebut kemudian dibagikan kembali oleh Akbar Faizal melalui akun X miliknya. Akbar menilai kunjungan langsung ke lokasi tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang terus berulang.
Ia bahkan meminta Gibran mengambil peran lebih jauh sebagai Wakil Presiden.
“Kepada Sdr Wapres @gibran_tweet, berkunjung ke lokasi problem spt dalam video ini sama sekali tak membantu. Ini gaya politiknya Bapakmu. Anda khan milenial. Masak gini?” tulis Akbar Faizal, dikutip Sabtu (12/9/2026).
Akbar kemudian memaparkan sejumlah langkah yang menurutnya dapat dilakukan Gibran untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
Ia menyarankan Gibran memanggil Menteri ESDM, Kapolri, Menteri Keuangan, serta kementerian dan lembaga terkait untuk mencari akar masalah.
“Kuajarkan caranya: Panggil Menteri @KementerianESDM, Kapolri, Menteri @KemenkeuRI dan K/L terkait. Tanyakan, Kenapa masalah ini berulang, apa jalan keluarnya, dimana hambatannya, siapa bertanggungjawab apa, mana skala prioritas, dll,” tulisnya.
Akbar juga meminta pemerintah menyiapkan skenario penanganan jangka pendek, sekaligus merancang langkah untuk mengatasi persoalan dalam jangka menengah dan panjang.
Marzuki Singgung Anak Presiden dan Ketum Parpol
Di tengah kritik tersebut, Marzuki Alie turut membalas unggahan Akbar Faizal.
Alih-alih membahas secara spesifik langkah Gibran dalam menangani persoalan di SPBU, Marzuki justru menyinggung peluang seseorang menjadi presiden serta kondisi demokrasi di internal partai politik.
Marzuki mengatakan, banyak orang yang dinilai layak menjadi presiden. Namun, menurutnya, kesempatan untuk menduduki jabatan tersebut sangat terbatas.
“Bro, yg pantas jadi presiden di republik ini banyak sekali, tp yang nasib jadi presiden itu, sangat terbatas,” tulis Marzuki membalas unggahan Akbar.
Ia kemudian menyinggung dua kelompok yang menurutnya memiliki peluang politik lebih besar karena latar belakang keluarga.
“1. Anak presiden yg bapaknya cawe2. 2. Anak ketum partai, yg diwariskan ke anaknya,” lanjutnya.
Marzuki juga melontarkan kritik terhadap kondisi demokrasi di internal partai politik.
Menurutnya, klaim partai politik sebagai penjaga demokrasi patut dipertanyakan apabila praktik demokrasi justru tidak berjalan di dalam tubuh partai.
“Omong kosong dengan partai yang menjaga demokrasi, karena di partai tdk ada demokrasi,” tegas Marzuki. (Joe)















