Jakarta, Frekuensi Informasi – Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo, mengatakan, untuk wilayah Palembang, kualitas udaranya mampu diperbaiki setelah operasi terpadu modifikasi cuaca untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Jumat (23/10/2026).
Perbaikan tersebut terlihat kata Budi terlihat dari meningkatnya jarak pandang dan menurunnya indeks partikel halus PM2.5 setelah pesawat melakukan operasi modifikasi cuaca pada 19 Oktober 2026.
Senada pernyataan Budi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengungkapkan kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, menunjukkan perbaikan setelah dilakukan operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice atau es kering.
Berdasarkan grafik yang dipaparkan, jarak pandang di Palembang pada pagi hari umumnya berada di bawah 1.000 meter.
Namun lanjut Budi, setelah penerbangan menggunakan dry ice sekitar pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, jarak pandang meningkat. Visibility-nya naik otomatis akan membuat seperti kepekatan asap di bawah menjadi terurai meskipun tidak hilang asapnya.
Menurut Budi, peningkatan jarak pandang berkaitan dengan terbukanya lapisan inversi atmosfer yang sebelumnya menahan partikel asap di dekat permukaan.
Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer yang menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap sulit terdispersi ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Akibatnya, konsentrasi asap di dekat permukaan meningkat dan jarak pandang menurun. Melalui penyemaian dry ice, operasi modifikasi cuaca bertujuan mengganggu lapisan inversi agar partikel asap dapat terdispersi ke atmosfer yang lebih tinggi.
Meski kualitas udara menunjukkan perbaikan, Budi menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca tidak serta-merta menghilangkan asap karhutla. Menurut dia, salah satu cara paling efektif untuk menghilangkan asap adalah melalui hujan. Upaya tersebut perlu didukung pemadaman kebakaran dari darat dan penggunaan helikopter untuk pengeboman air (water bombing).
Budi menjelaskan, penggunaan dry ice berbeda dari metode modifikasi cuaca konvensional yang menggunakan natrium klorida (NaCl) atau garam. Dry ice digunakan untuk membantu menormalkan profil suhu atmosfer dan membuka lapisan inversi.
Sementara itu, penyemaian NaCl dilakukan ketika awan konvektif mulai terbentuk untuk menambah inti kondensasi sehingga mempercepat pembentukan hujan. Dengan demikian, kedua metode tersebut memiliki tujuan berbeda, tetapi saling mendukung dalam upaya penanganan karhutla. (Joe)















