banner 728x250

Persoalan Kelangkaan BBM, Said Didu Heran Pemerintah Masih Memuji Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (Foto/Ist)

Jakarta, Frekuensi Informasi – Aktivis sosial, Muhammad Said Didu, menyesalkan sikap pemerintah yang seolah tidak peduli kersahan masyarakat disejumlah daerah mengenai Persoalan kelangkaan dan sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Dikatakan Said Didu, kondisi di lapangan justru memperlihatkan beban yang harus ditanggung rakyat.

Salah satunya terlihat dari panjangnya antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM di Sulawesi Selatan.

Said Didu mempertanyakan ukuran yang digunakan pemerintah dalam menilai kinerja para menteri di tengah berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat.

Ia menyinggung adanya kesenjangan antara kondisi rakyat di lapangan dengan pujian yang terus diberikan Presiden Prabowo terhadap kinerja Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

“Rakyat menderita, Menteri dipuji. Rakyat bingung apa kriteria yg digunakan Presiden untuk menilai Menterinya,” kata Said Didu, dikutip frekuensiinformasi, Kamis (10/9/2026).

Kata Sad, persoalan BBM bukan masalah yang baru terjadi. Kesulitan masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar disebut telah berlangsung selama berbulan-bulan di berbagai daerah.

Salah satu kondisi yang disesalkan Said Didu terjadi di Sulawesi Selatan.

Ia menyebut masyarakat harus menghabiskan waktu hampir 62 jam hanya untuk mendapatkan BBM, khususnya solar dan Pertalite.

“Rakyat sudah berbulan-bulan kesulitan dapat BBM di berbagai daerah,” kata dia.

Said Didu kemudian memberikan gambaran mengenai kondisi di Sulsel. Menurut dia, antrean untuk mendapatkan solar bahkan bisa berlangsung hingga puluhan jam.

“Contoh di Sulsel, utk dapatkan solar harus antri sekitar 36 – 62 jam dan Pertalite sekitar 5-10 jam,” jelasnya.

Kondisi tersebut, menurut pria kelahiran Pinrang ini menunjukkan persoalan BBM yang perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah.

Tidak hanya soal BBM, Said Didu juga mengaitkan kondisi tersebut dengan sejumlah persoalan lain di sektor energi.

Ia menyinggung masalah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan, pemadaman listrik oleh PLN, hingga persoalan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara.

“Juga masalah RKAB tambang, mati lampu PLN, dan DMO batubara,” kata kepada awak media.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Said Didu kembali mempertanyakan sikap Presiden Prabowo yang menurutnya masih memberikan apresiasi terhadap kinerja Menteri ESDM.

Ia menekankan bahwa kondisi tersebut menjadi sesuatu yang membingungkan bagi masyarakat yang justru merasakan langsung dampak persoalan energi.

“Tapi dibalik kesembrawutan tersebut, setiap saat Presiden Prabowo selalu memujin kinerja Menteri ESDM,” tandasnya. (M.A)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *