Jakarta, Frekuensi Informasi – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menilai Polri tidak dapat begitu saja mengadopsi konsep community policing ala kepolisian Jepang tanpa penyesuaian. Perbedaan kultur masyarakat serta karakteristik tantangan yang dihadapi kedua negara membuat hasil pembelajaran dari Jepang perlu diselaraskan lebih dulu dengan kondisi sosial di Indonesia sebelum diterapkan
Hal tersebut disampaikan Komisioner Kompolnas Choirul Anam, menanggapi kegiatan studi banding Bhabinkamtibmas ke Jepang. “Memang kepolisian Jepang itu mengembangkan community policing yang artinya memang pelayanan hidup dari masyarakat. Kepolisian juga berinteraksi dengan masyarakat. Dan ini cocok dengan tugas-tugas Bhabinkamtibmas,” kata Anam, saat dikonfirmasi, Sabtu (12/9/2026).
Menurut dia, perbedaan kultur dan tantangan masyarakat membuat Polri perlu melakukan penyesuaian ketika mengadopsi praktik community policing dari Jepang. Ia menilai, studi banding seharusnya tidak berhenti pada melihat atau meniru praktik yang diterapkan kepolisian Jepang.
Setiap pengalaman yang diperoleh perlu dicatat dan dikaji untuk menentukan praktik mana yang paling sesuai diterapkan di Indonesia. Catatan tersebut, dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari standar operasional prosedur (SOP), peralatan yang digunakan, hingga metode interaksi polisi dengan masyarakat.
“Pengalaman, catatan, akan sangat baik bagi proses pengembangan. Apa yang terbaik itu dari mulai SOP, alat-alat yang digunakan, metodologi interaksi dan sebagainya,” tutur dia. Ia juga mendorong adanya pertukaran pengalaman secara dua arah.
Menurut dia, polisi Jepang juga dapat datang ke Indonesia untuk mempelajari praktik community policing yang diterapkan Polri.
Dengan melihat langsung kondisi masyarakat Indonesia, kepolisian Jepang maupun Polri dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai penerapan community policing di masing-masing negara. “Harapan kami ke depannya memang ini tidak hanya polisi Indonesia yang datang ke Jepang, tapi polisi Jepang yang datang ke Indonesia, hidup di tengah masyarakat Indonesia, berinteraksi, terus buat catatan, pengalaman, dan lain sebagainya,” kata dia.
Apa yang dipelajari dari polisi Jepang? Sebelumnya, Sejumlah personel Polri melakukan studi banding ke Jepang. Polri menyebut kunjungan personel Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polri ke Jepang merupakan undangan dari Pemerintah Jepang.
“Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama Polri dengan Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA),” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, saat dikonfirmasi wartawan. Personel Binmas, khususnya Bhabinkamtibmas, melakukan pertukaran pengetahuan dan pengalaman dengan kepolisian Jepang pada 3-11 September 2026.
Polri mendeteksi kunjungan anggota Binmas Polri ke Jepang sempat menuai sorotan di media sosial. Trunoyudo menjelaskan pembiayaan kunjungan kerja itu dibiayai oleh Jepang.
Dalam kunjungan tersebut, terdapat 10 personel Polri yang mengikuti program pertukaran pengetahuan dengan kepolisian Jepang. Trunoyudo menerangkan, kunjungan ke Jepang menjadi kesempatan bagi personel Binmas dan Bhabinkamtibmas untuk mengetahui penerapan community policing di Jepang.
“Dalam kegiatan ini, personel Binmas dan Bhabinkamtibmas bertukar informasi dan melihat secara langsung bagaimana kepolisian Jepang menjalankan community policing melalui petugas Koban dan Chuzaisho, khususnya dalam upaya pencegahan kejahatan dan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat,” kata Trunoyudo. (Joe)















