banner 728x250

Kapal Induk Pertama RI dari Italia  Difokuskan Terutama untuk OMSP

KAPAL INDUK INDONESIA - Foto yang dirilis TNI Angkatan Laut memperlihatkan kapal induk Italia, Giuseppe Garibaldi memasuki peraian Indonesia, 17 September 2026. Kapal ini akan menjadi kapal induk ringan pertama Indonesia dengan nama KRI Sriwijaya. (Instagram @tni_angkatan_laut)

Jakarta, Frekuensi Informasi – Kapal induk ringan dari Italia, Giuseppe Garibaldi, telah tiba di Dermaga Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Kapal tersebut akan menjadi kapal induk ringan pertama yang dimiliki Indonesia dan akan diberi nama Kapal Republik Indonesia (KRI) Sriwijaya.

Giuseppe Garibaldi berstatus kapal hibah dari Italia dengan panjang 180 meter dan lebar 30 meter.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, memastikan kapal ini siap layar dan mampu beroperasi optimal di wilayah maritim Indonesia.

Kapal ini juga disebut mampu beroperasi hingga 20 tahun mendatang.

Menurut KSAL, kapal induk ini akan lebih banyak digunakan TNI AL untuk operasi militer selain perang (OMSP), yakni operasi non-tempur seperti bantuan kemanusiaan dan penanganan bencana.

“Kapal ini nantinya akan lebih kita gunakan untuk kepentingan OMSP, atau Operasi Militer Selain Perang,” ujarnya, dilansir KompasTV.

“Namun juga bisa digunakan untuk kepentingan militer untuk perang.”

Tapi kita fokuskan terutama untuk OMSP di mana negara kita ini banyak bencana alam,”

Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Muhammad Ali menggelar konferensi pers saat kedatangan kapal induk asal Italia, Giuseppe Garibaldi, di Dermaga Tanjung Priok, Jakarta, 18 September 2026. Muhammad Ali memastikan kapal ini siap berlayar dan mampu beroperasi optimal di wilayah maritim Indonesia. (Foto/Ist)

Menurut Laksamana Muhammad Ali, Indonesia sebagai negara yang banyak dilanda bencana alam sangat membutuhkan sarana yang mampu membawa banyak helikopter.

“Jadi kita sangat butuh kapal atau platform yang bisa membawa banyak helikopter.”

Karena dengan helikopter ini logistik akan bisa banyak di-drop dengan cepat ke seluruh area-area yang remote, daerah terpencil pun dengan helikopter bisa di-drop,” katanya.

Dengan kemampuan tersebut, KRI Sriwijaya akan berfungsi sebagai pangkalan terapung untuk operasi udara, baik dalam pelaksanaan operasi militer perang maupun OMSP.

Artinya, kapal ini tidak hanya menjadi bagian dari kekuatan tempur, tetapi juga platform pendukung misi kemanusiaan.

Keunggulan Kapal Induk Giuseppe Garibaldi

Kolonel Laut (Pelaut) Muhammad Fuad Hasan, calon komandan pertama KRI Sriwijaya, menjelaskan, bahwa Giuseppe Garibaldi memiliki kemampuan yang cukup berbeda dibandingkan kapal-kapal lain.

“Jadi kapal ini adalah kapal induk yang tentunya dari sejarah TNI maupun TNI Angkatan Laut ini adalah sejarah pertama kali kekuatan TNI, TNI Angkatan Laut, didukung oleh kapal induk dan tentunya kapal induk itu memiliki kemampuan yang cukup berbeda dengan kapal-kapal lain,” ujar Fuad Hasan.

“Yang paling signifikan membedakan adalah kapal ini memiliki kemampuan mengangkut pesawat udara yang lebih banyak.”

“Jadi dapat melaksanakan operasi udara yang lebih masif, lebih besar, yang didukung oleh flight deck yang cukup panjang.”

“Jadi kapal ini panjang 180 meter, flight deck 174 meter.”

“Kami mampu memuat pesawat kurang lebih sekitar 14 pesawat heli ukuran medium maupun besar.”

Ia merinci, tujuh helikopter dapat disiapkan di flight deck, sementara hanggar mampu menyimpan sekitar tujuh unit lainnya.

“Kemampuan inilah yang membedakan dengan KRI lain,” ujarnya.

Kapasitas belasan helikopter itu sejalan dengan kebutuhan yang sebelumnya disampaikan KSAL, yakni mengirim logistik dengan cepat ke daerah terpencil saat bencana.

Dari sisi personel, TNI AL merencanakan total kru sebanyak 400 orang yang akan mengawaki lima departemen.

Satu yang unik dari kapal ini adalah kami memiliki departemen udara,” kata Fuad.

Ia mengingatkan bahwa fungsi utama kapal ini memang menyelenggarakan operasi udara.

Fuad menambahkan, kapal ini dapat berfungsi sebagai floating base.

“Pangkalan yang terapung yang dapat digerakkan ke posisi yang diinginkan dan kemudian melaksanakan operasi udara tersebut,” tuturnya. (Joe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *