Kab. Batang, Frekuensi Informasi – Kelompok Ambulance Alas Roban (KAAR) mencatat sekitar 80 unit ambulans dikerahkan untuk menangani pasien di terduga keracunan setelah mengkonsumsi MBG di Kec. Bawang. Sejumlah sopir ambulance tersebut mengaku terpaksa merogoh kocek pribadi untuk membeli bahan bakar kendaraan selama proses evakuasi sejak Rabu (23/9/2026) hingga beberapa hari setelahnya.
Ambulans berasal dari berbagai unsur mulai ambulans desa, LazisMu, LazisNU, hingga kendaraan dari luar Batang seperti Sukoharjo, Plantungan, dan Kendal. Mustakim (35), salah satu sopir ambulans, mengaku nyaris tanpa jeda mengemudikan kendaraan dari rumah pasien ke Puskesmas Bawang, lalu ke rumah sakit, kemudian kembali lagi ke Bawang.
“Sejak Rabu kemarin sore, Pak. Evakuasi pasien dari rumah, dari pondok, terus dibawa ke sini,” kata Mustakim dilansir dari Kompas.com, Senin (28/9/2026).
Sopir Silih-Berganti Antar Korban Keracunan MBG
Setibanya di Puskesmas Bawang, para pasien dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan lain, di antaranya Puskesmas Bandar, Subah, Gringsing, RSUD Limpung, hingga RSUD Batang.
Saat situasi berada di titik paling sibuk, satu unit ambulans bisa mengantar pasien sebanyak enam hingga delapan kali dalam sehari. Usai menurunkan pasien di rumah sakit, para sopir justru menunggu kabar berikutnya lewat pesan yang masuk di grup WhatsApp. Begitu ada pasien baru, ambulans kembali bergerak.
“Kemarin (Rabu), pas puncak-puncaknya, satu armada ambulans, bisa dikatakan antar pasien bisa sampai enam hingga delapan kali,” jelasnya. “Belum sempat pulang, belum mandi juga dua hari, Rabu-Kamis,” tambah Mustakim. Puncak kesibukan terjadi pada Rabu malam, ketika Puskesmas Bawang dipenuhi pasien dan ambulans berdatangan hampir bersamaan.
Sebagian kendaraan membawa pasien dari rumah, sebagian lain bersiap mengantar ke rumah sakit rujukan. Antrean kendaraan bahkan mengular hingga area SPBU terdekat. Pada Kamis siang, Mustakim baru saja menjemput tiga pasien dari rumah, dua di antaranya balita dan satu orang dewasa, sebelum membawa mereka ke Puskesmas Bawang. Salah satu pasien kemudian harus dirujuk kembali ke RSUD Batang, dan sirene pun kembali dibunyikan untuk perjalanan berikutnya.
Buka Tabungan Pribadi demi Beli BBM Suparno, yang akrab disapa Mbah Parno selaku Koordinator Kelompok Ambulans Alas Roban, menjelaskan sebagian besar armada yang bergerak merupakan ambulans desa, ditambah sejumlah unit milik yayasan.
Banyak pengemudinya berasal dari kalangan perangkat desa. Sejak awal operasional di lapangan dijalankan dengan semangat sukarela, termasuk dalam pemenuhan BBM yang menggunakan uang pribadi. Ketika ambulans harus bergerak berulang kali selama berjam-jam, bahkan berhari-hari, uang saku para pengemudi ikut terkuras habis.
Sementara permintaan evakuasi belum juga mereda, Mbah Parno memutuskan membongkar tabungannya. Uang tersebut ia bagikan kepada para pengemudi untuk membeli bahan bakar, meski jumlahnya tidak besar.
“Yang penting ayo tak bagikan ke teman-teman ambulans. Tak kasih sementara per orangnya Rp150 ribu buat beli BBM,” imbuh Suparno.
“Tidak akan cukup, jelas itu. Tapi, setidaknya bisa bertahan di tugas kemanusiaan ini. Intinya gimana lah, yang penting mobil kita bisa jalan, kan harus ada BBM,” sambungnya.
Suparno mengaku hampir tidak memiliki waktu istirahat selama dua hari dua malam berturut-turut. (Tot)















